Saturday, December 27, 2008
Wednesday, December 17, 2008
Menumpang Maestro GM: Selamat Hari Ibu

Gambar-gambar pada entri blog ini bukanlah representasi esai GM. Cuma rekoneksi emosi.
Dari Situ Gede, satu perkampungan di pinggiran Bogor. Seorang Ibu dengan lima anaknya. Tertua baru saja lulus SMA dan terkecil belum masuk usia sekolah. Tertangkap olehku keramahan khas negeri ini. Tentu dengan sebuah sapa tulus dan senyum, kita boleh menjadi tetangga, kenalan, kolega baru. Berbicang dengan profil generik ibu rumah tangga negeri ini, melihat anak keturunannya bermain, dan berkeliling di seantero rumahnya, dari sudut paling privat. Boleh kuduga, sangat mungkin idealisme dan kerja keras ibu di foto ini tidak jauh berbeda dengan Ibu Nur Hidayah yang barusan kubaca di Catatan Pinggir. Mengangkat harkat strata sosial lewat pendidikan anak.





Sebentar lagi, sekali setaun kita ucapkan Selamat Hari Ibu. Ingatku pada Ibuku, yang baru saja pulang dari rumah sakit. Tak kan habis banggaku padamu.
Tuesday, December 9, 2008
Di Kolong Sawah Besar








Equilibrium Disequilibrium? Kulihat hanya keuletan demi kekuatan yang diasah setiap hari, nampaknya. Ya. Di tempat yang tak terlalu jauh pusat kekuasaan negeri ini. Tipikalkah di kolong stasiun yang lain?.
Tuesday, November 20, 2007
Inside Yogya and the Solo Soul
Friday, August 17, 2007
Indonesian Flag is Raised Today: Independence Day

Monday, August 13, 2007
A Prelude

It was late afternoon. I took my family to one amongst Indonesian historical places. I pressed my camera shutter several time. This one is my favorite. One officer on duty we met in July 2007 at Gedung Perundingan Linggarjati, Kuningan, West Java, with our founding father Soekarno at the background. He has been working as a public servant guiding this museum's guests for more than 25 years. A government officer loyalist. I asked his name, but forgot to make any record of it and, i must apologized to myself: I forgot. I should bring my recorder next time.
On the next two days, our nation will be on her 62th anniversary. 17 August 1945. Long journey to a real independence for a better welfare for Indonesian people. Diversity in unity. We need that unity. Beating the number one enemy: corruption troops.
Merdeka!