Thursday, April 9, 2009

Inside Sidemen: A Celluloid Walk

A weekend walk with celluloid. The digital version has previously been posted at multiply.com. Its prologue has been quoted below.

One early morning drive to east of Bali after taking pictures for one of my staff wedding at Tirtha Uluwatu a night before. Destination Sidemen. Only Periplus book on Bali and internet info as a basis. Rizal certainly woke up earlier than me as he picked me up at 5:00AM. Heading Klungkung through the Ngurah Rai artery. Several stop by and asking passer by about our destination. Morning has broken when we finally arrived at Sidemen. Warungs were not opened yet, but we find one at last. A man was cleaning his warung when we parked the car. He smiled and the regularity followed. Two glasses of hot and sweet black tea. For me, with additional marlboro shots. We talked with the man, Pak Made, and short intro with his wife. Pak Made was very helpful, so helpful indeed as he finally guided us walking inside Sidemen, throughout the morning.

The three of us visited local traditional market, Pasar Sidemen. Followed by a short visit to one of the home industry, where Balinese Weaving was made by housewife, after their morning house works was completed. Our walk continued to a small family who made Arak Bali. In those three places, we met with people with their unique and honest hospitality. Humanity. Hoping that they continue to be like this. Even, when the time their areas' boutique hotel resort are completed (we saw brick were built, just a few meter down the place where they made Arak Bali), tourism and the resultant honey-money are coming.

Citishot comrade: Rizal I. Sjahid (www.ris.fotografer.or.id)

EOS 5D, 16-35mm and EOS 3, 50mm, Neopan 100, 12.5min at 17.5degCelsius.
















Friday, April 3, 2009

Dari Mayor Oking Hingga Ke Kapten Muslihat

Sabtu pagi yang berulang. Ini kali telah lampau beberapa bulan. Enam lelaki tua muda berjalan bersama lagi. Masih menenteng mesin kecil pencari cahaya. Gelap dan terang, cita-citanya. Namun entah nanti apa jadinya.

Bermula dari stasiun Bogor peninggalan negeri Belanda yang tetap tegap berdiri tengah bising dan riuh rendah segala kasta berlalu ke dan dari. Besi-besi baja rel kereta itu memanjang berjajar dari utara ke selatan, berdampingan dengan jalan pendek bertajuk Mayor Oking, lengkapnya Oking Jayaatmadja. Lama kami meniti jalan itu. Perlahan, wicara, dua arah. Dari situ, kami kemudian menuju arah selatan. Demosi tampaknya. Karena kami berpapasan dengan Jalan Kapten Muslihat. Lalu menyeberang Jembatan Merah milik rakyat dan bukan hanya milik satu partai. Perjalanan selesai dengan memutar balik di pertigaan pecinan lama, yang masih menyisa banyak tauke ramah lemah lembut yang menjual segala rupa benda yang kini tak lagi dijual di pasar super dan mega super, milik kongsi kongsi luar negeri. Satu kujumpa dan lama bertukar fatwa di salah satu kios kelontong lawas. Kubawa pulang satu pesannya: "... semua aliran kepercayaan baik adanya, asalkan berbuat baik untuk sesama". Kuambil satu foto beliau yang sedang menjelaskan konsep besar dengan kata-kata sederhana dengan lancar dan runtut di pagi itu. Kami berpamitan dan ia pun sambil tersenyum mengundang waktu kami untuk bertukar kata lagi, kapan-kapan. Ah, mungkin akan sangat nikmat jika sambil menghirup kopi bersama beliau, sambil berbincang tentang hal-hal besar dengan hati kecil di situ. Sabtu pagi, apalagi.

Pagi itu ditutup dengan canda tawa di Sop Buntut Mang Endang, Air Mancur, Jl. Sudirman, Bogor.

Kamerad: Rizal I. Sjahid, Igor F. Firdauzi, Tigor 'eMPeh' Peetosutan, dan dua bintang tamu dari jauh Imam 'Imang Jasmine' Sjafrudin dan Antonius Yuniarko.

EOS 3, 16-35, Neopan Seratus, MicroMF dan Acifix, 12.5min dan 17.5degCelsius.



































Saturday, March 21, 2009

Pulo Geulis: A Smiling 'Island'

Sabtu pagi itu, bersama tiga temanku yang kebetulan adalah anggota Asosiasi Leicawan Sedunia, aku berjalan kaki membawa eos-3 lawas kepunyaanku menuju suatu "pulau" kecil yang diapit oleh sungai Ciliwung, terletak di dekat Stasiun Bis Baranangsiang dan tak begitu jauh dari Pasar Bogor dan Kebun Raya Bogor. Nama kampungnya adalah Pulo Geulis. Luas teritorial pulau ini adalah satu RW yang terdiri dari empat RT. Beberapa jembatan (gantung dan beton) menghubungkan kampung ini dengan daratan bogor yang riuh rendah. Kami berjalan dan berjalan. Berkenalan dengan ketua RT dan berbincang dengan beberapa penduduk setempat. Beberapa warga sempat menemani beberapa langkah bahkan turun ke sungai Ciliwung. Sepanjang gang mengelilingi pulau ini (yang hanya bisa dilewati motor saja), kami hanya melihat satu hal: senyum dan ketentraman. Transaksi ekonomi ritel (baca: tukang dagang aneka-ragam penganan dan kelontong). Tak pusing oleh hingar-bingar pemilu. Tak peduli juga, tampaknya, dengan krisis global. Mungkin ini yang disebut-sebut sebagai daya tahan ekonomi masyarakat rural, yang menopang pemain ekonomi kelas tinggi di saat situasi runyam.

Sungguh, kami melihat ada banyak kebahagiaan, yang asli, di sana.

EOS 3 on 16-35, Neopan SS100, MicroMF, Acifix, 17.5c 12.5min.
Kamerad: Rizal I. Sjahid, Igor F. Firdauzi, Tigor Peetosutan
































Tuesday, March 3, 2009

Terima kasihku untuk Citi


Wednesday, February 4, 2009

Sri Senpaga Vinayagar Temple, Katong, Singapore

Awal tahun 2009. Kucuri satu pagi saja dari keluargaku saat berkunjung ke Singapura. Lalu berjalan kaki membawa kamera Canon 5D dengan lensa 16-35ku itu dengan satu destinasi Vihara Sri Senpaga Vinayagar yang menurut buku Lonely Planet adalah sebuah tempat ibadah untuk umat Hindu. Lokasinya di daerah Katong, cuma selemparan batu di belakang hotel tempat kami menginap di East Coast, bagian timur Singapura. Hari itu kebetulan hari minggu, lumayan banyak umat yang datang untuk berkumpul, berdoa, mendengarkan (sepertinya) ceramah. Ada juga aktivitas pendaftaran sekolah minggu untuk pelajaran agama Hindu hari itu.

Tiga jam aku disitu, sedari pagi hingga sekitar jam sepuluhan, lalu aku kembali ke hotel untuk melihat anak dan istriku yang (seperti biasa) sudah siap, dan kuantar untuk pergi jalan-jalan. Everybody wins, meminjam istilah om Ben Suadi tadi siang di Rice Bowl Ratu Plaza. Sebab, aku curi waktu dimana keluargaku sebenarnya tidak kehilangan apapun. Potret ini untuk berbagi hasil dari ritual pencurian waktu di pagi hari setiap aku bepergian menginap di luar rumah, bersama keluargaku.














Monday, February 2, 2009

Stasiun Cibadak - Sukabumi

Sekuel terakhir perjalanan kemarin hari. Stasiun Cibadak dan Sukabumi, dua-dua telah berbenah, masih menyisa bau cat baru dan keramik yang mengkilap. Walau belum sesering seperti dulu, ucap selamatku untuk perusahaan kereta negara yang telah mengaktivasi jalur bogor-sukabumi ini kembali.

Penanggalan masehi tahun duaribu delapan menunjuk pada bulan januari, berangka 24. Dua hari menjelang pergantian tahun untuk penanggalan cina. Hendak menjadi 2560. Harinya adalah sabtu. Tempo-tempo seperti ini wajar jika adrelanin meninggi hendak memotret ritual dan tradisi pecinan. Pilihan yang rumit adalah tempat. Beberapa perjalanan fotografi yang telah dilakukan di beberapa sabtu di masa lalu rupanya mengarah pada jalur kereta api Bogor - Sukabumi. Dimulai dari Stasiun Bogor, Stasiun Batutulis, Stasiun Cigombong, Stasiun Parungkuda. Maka, sebetulnya tinggal beberapa titik stasiun lagi, maka telah lengkap perjalanan meniti jalur kereta ap i Bogor-Sukabumi (yang kini telah diaktivasi lagi oleh peusahaan kereta negara). Dengan menapak Sukabumi, maka ujung perjalanan sudah tuntas. Dengan bantuan mesin google, satu Vihara Widhi Sakti ditemukan dan segeralah kami kesana memotret.

Canon 5D, 16-35. Bersama kamerad Igor F. Firdauzi dan Rizal I. Sjahid saja, sebab yang lain berhalangan ikutan atau memilih mengikuti prosesi di tempat lain.











Sunday, February 1, 2009

Pasar (Dekat Stasiun) Sukabumi

Sekuel kedua dari perjalanan Bogor - Sukabumi: Pasar (Dekat Stasiun) Sukabumi. Tempat harga ekuilibrium setempat ditentukan. Ya, pertemuan kurva D dan kurva S lokal. Sekaligus tempat bertemunya berbagai etnis dan suku, mencari hidup. Ada banyak senyum dan harapan di sana.

Penanggalan masehi tahun duaribu delapan menunjuk pada bulan januari, berangka 24. Dua hari menjelang pergantian tahun untuk penanggalan cina. Hendak menjadi 2560. Harinya adalah sabtu. Tempo-tempo seperti ini wajar jika adrelanin meninggi hendak memotret ritual dan tradisi pecinan. Pilihan yang rumit adalah tempat. Beberapa perjalanan fotografi yang telah dilakukan di beberapa sabtu di masa lalu rupanya mengarah pada jalur kereta api Bogor - Sukabumi. Dimulai dari Stasiun Bogor, Stasiun Batutulis, Stasiun Cigombong, Stasiun Parungkuda. Maka, sebetulnya tinggal beberapa titik stasiun lagi, maka telah lengkap perjalanan meniti jalur kereta ap i Bogor-Sukabumi (yang kini telah diaktivasi lagi oleh peusahaan kereta negara). Dengan menapak Sukabumi, maka ujung perjalanan sudah tuntas. Dengan bantuan mesin google, satu Vihara Widhi Sakti ditemukan dan segeralah kami kesana memotret.

Canon 5D, 16-35. Bersama kamerad Igor F. Firdauzi dan Rizal I. Sjahid saja, sebab yang lain berhalangan ikutan atau memilih mengikuti prosesi di tempat lain.