Friday, April 3, 2009

Dari Mayor Oking Hingga Ke Kapten Muslihat

Sabtu pagi yang berulang. Ini kali telah lampau beberapa bulan. Enam lelaki tua muda berjalan bersama lagi. Masih menenteng mesin kecil pencari cahaya. Gelap dan terang, cita-citanya. Namun entah nanti apa jadinya.

Bermula dari stasiun Bogor peninggalan negeri Belanda yang tetap tegap berdiri tengah bising dan riuh rendah segala kasta berlalu ke dan dari. Besi-besi baja rel kereta itu memanjang berjajar dari utara ke selatan, berdampingan dengan jalan pendek bertajuk Mayor Oking, lengkapnya Oking Jayaatmadja. Lama kami meniti jalan itu. Perlahan, wicara, dua arah. Dari situ, kami kemudian menuju arah selatan. Demosi tampaknya. Karena kami berpapasan dengan Jalan Kapten Muslihat. Lalu menyeberang Jembatan Merah milik rakyat dan bukan hanya milik satu partai. Perjalanan selesai dengan memutar balik di pertigaan pecinan lama, yang masih menyisa banyak tauke ramah lemah lembut yang menjual segala rupa benda yang kini tak lagi dijual di pasar super dan mega super, milik kongsi kongsi luar negeri. Satu kujumpa dan lama bertukar fatwa di salah satu kios kelontong lawas. Kubawa pulang satu pesannya: "... semua aliran kepercayaan baik adanya, asalkan berbuat baik untuk sesama". Kuambil satu foto beliau yang sedang menjelaskan konsep besar dengan kata-kata sederhana dengan lancar dan runtut di pagi itu. Kami berpamitan dan ia pun sambil tersenyum mengundang waktu kami untuk bertukar kata lagi, kapan-kapan. Ah, mungkin akan sangat nikmat jika sambil menghirup kopi bersama beliau, sambil berbincang tentang hal-hal besar dengan hati kecil di situ. Sabtu pagi, apalagi.

Pagi itu ditutup dengan canda tawa di Sop Buntut Mang Endang, Air Mancur, Jl. Sudirman, Bogor.

Kamerad: Rizal I. Sjahid, Igor F. Firdauzi, Tigor 'eMPeh' Peetosutan, dan dua bintang tamu dari jauh Imam 'Imang Jasmine' Sjafrudin dan Antonius Yuniarko.

EOS 3, 16-35, Neopan Seratus, MicroMF dan Acifix, 12.5min dan 17.5degCelsius.